Pelangi Tak Pernah Di Atas Kepala Kita

Masih ingat kala SD sore-sore selalu di putarkan ceramah KH Zainudin MZ, rasanya ceramahnya tidak pernah bosan ditelinga ini untuk selalu mendengarkan, guyonan-guyonan segar seolah-olah telah menyumbat salah satu telingaku dan membiarkan salah satu telingaku untuk mendengar kata-katanya, sehingga tidak bisa keluar lagi di kepala ini, saat ini sudah lebih sepuluh tahun lebih aku masih teringat dengan ceramah beliau tentang sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki olehnya, mereka selalu menganggap tidak pernah merasakan indahnya warna pelangi berada tepat di atas kepalanya, selalu saja pelangi itu berada di atas kepala orang lain. Selalu saja ada alasan untuk tidak merasa puas akan apa yang dimiliki, selalu saja ada pembenaran untuk menjadikan kesalahan bagi yang lain, dan pada akhirnya perasaan ini menimbulkan penyakit hati yang tidak berkesudahan. Kerinduan akan ketenangan yang hakiki, merasakan indahnya rasa bersyukur, adalah tujuan yang sebenarnya. Ternyata dari sekian banyak nikmat yang diperoleh, tak ada artinya bila tidak ada perasaan nikmat dalam diri kita, keluarga kita, bahkan bagi orang disekeliling kita, walaupun berapapun jumlahnya seakan terasa hampa dan semu. Kedongkolan hati, perasaan bersalah, dan ketidakyakinan akan nikmat yang diberikan oleh Tuhan semakin menyeret kepada kehinaan sebagai seorang hamba dimata Tuhannya.

  • Tidak berguna, harta yang bertumpuk, segala nafsu terpenuhi, bila hati yang cuma bisa tenang oleh makanan jiwa yang lembut dan halus tidak pernah disuguhi dengan siraman air rohani. Perasaan tenang merupkan dambaan, perasaan dihargai sebagai manusia adalah harapan, dan perasaan kasih sayang adalah suatu prestasi yang memang harus diperjuangkan.
  • Perjuangan belum selesai, kuantitas belum bisa menentukan kebahagiaan yang hakiki, kuantitas tanpa arah yang jelas belum bisa berpengaruh pada standar hidup yang baik, sebaliknya apa yang diperoleh dengan perasaan yang tenan, jiwa yang menang (bebas) mempengaruhi setiap sendi kehidupan yang hanya sementara ini.
  • Kekalahan yang sebenarnya ketika memenangkan suatu yang bernilai keduniaan, dan melakukan kesalahan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang manusia yang bukan hanya memerlukan fisik semata, tetapi memerlukan rasa cinta dan kasih yang begitu besar pengaruhnya pada diri kita sendiri. Itulah konsep kesuksesan yang belum terasa dalam masing-masing jiwa, dan begitu juga dengan penulis sendiri. Begitu banyak kemenangan, namun itu merupakan kekalahan yang sebenarnya. Kesuksesan yang dipandang dari keberhasilan mendapatkan pujian dan beberapa kemudahan dalam pertemuan telah melenyapkan dari realita kehidupan, kemenangan itu semu….. dan itu telah meracuniku.
  • Hilang kegairahan, hilang keingintahuan, semua terasa hampa, padahal, semua belum tentu bisa mendapatkan. Aku merasa kalah oleh diri sendiri, hampa dan terasing membelenggu jiwa ini. Aku ragu dengan langkahku, aku ragu dengan jiwaku dan itu menyiksa, dan sungguh menyiksa. Aku lelah…

Menerima kehadiran jiwa, menerima kelembutan cinta, sulit untuk melupakan itu, dan membuat sakit hati yang begitu parah. Entah bagaimana kendali hati mulai goyah, runtuh terbentur ego dan ketidakpastian. Renungan dan harapan yang semakin dalam dan jauh, melunturkan niat baikku. Aku perlu yang bisa menyadarkanku dikala aku lalai, aku perlu mengigatkanku bila aku lupa, aku perlu penjaga hatiku yang luntur oleh gemulai tarian nafsu, tapi aku merasa semakin jauh itu adanya. Lintasan keinginan dan harapan yang terbaik membutakan mata ini untuk berpaling dari ketidakbaikan dirinya. Aku terikat target masa kecil, dan doktrin-doktrin yang menurut zaman sekarang uda basi, namun sayangnya aku masih terikat kuat dengan itu dan belum bisa kulepaskan sepenuhnya, dan kadang aku merasa terkesan menjadi pecundang bagi diri sendiri dan tidak mengikuti apa yang seharusnya kulakukan, aku kaku dan kikuk oleh diri sendiri.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s