Air Seni Kegugupan

4 dan 5 Juli ’08, Dua hari bersejarah yang bakal menjadi histori pribadi. Betapa tidak, dua hari itu sudah menjadi hari yang paling ditunggu selama tiga bulan terakhir. Kalau boleh melihat bulan yang lalu, tepatnya bulan maret, sesudah seminar skripsi tak sengaja aku menemukan brosur untuk melanjutkan pendidikan dari Institut Yang ada di Bandung. Begitu kebetulan jurusannya adalah jurusan yang selama dua tahun terakhir menjadi topik pembicaraan yang sedang gencar-gencarnya di wilayah Semende kab. Muara Enim.

Ya….Betul, anda benar sekali, topik itu adalah topik tentang eksplorasi panas bumi, yang disinyalir bernama Lumut Balai. Dua tahun terakhir adalah proses pembangunan infrastruktur yang tentunya telah mengundang banyak harapan masa depan tentang keberadaan Panas Bumi di desaku. Balik ke Topik…..

Brosur itu menyebutkan tanggal tes 5 dan 6 mei ’08 namun untuk peserta beasiswa (pada umumnya), sedangkan untuk peserta dengan biaya sendiri 4 dan 5 juli ’08. Hari berganti, minggu ke minggu semakin berputar, tak terasa tanggal 23 juni ’08 aku boleh berkata “bye-bye Palembang” karena pada hari itu aku beranjak meninggalkan kota yang telah memberikan aku segudang pengalaman dalam menempuh kehidupan.

Transit pertama, kota Depok. Kota Depok adalah bukti kedatanganku, dan mungkin dengan berat hati “dia” berkata “Welcome Agus Manggala”, kenapa dia berkata begitu…? Mungkin karena dia sudah banyak sekali menerima orang-orang yang sepertiku, dengan semua impian dan cita-cita, dengan semua hamparan harapan, MENGADU NASIB DI KOTA JAKARTA. “Semoga Berhasil, gumamnya pelan”

Tak berapa lam ‘dia’ kembali riang gembira dengan senyum melepas kepergianku 27 juni ’08. Welcome Back Agus Manggala, terbanglah sebentar ke Rumah Adikku “Bandung” karena engkau membawa impian. Begitu ia berkata, terasa berat di telinga dia untuk mengatakan “welcome back” entah mengapa dia begitu, apa karena sudah banyaknya Orang-Orang sepertiku yang hilir mudik mengahampirinya, namun dengan penyesalan… entahlah aku tak tahu.

27,28,29,30, juni – 1,2,3,4,5 Juli (Bandung menyapaku) apa kabar teman… empat tahun sudah kau berlalu, dan sekarang kembali lagi, mau apa Gerangan….!!! tatapnya garang…. Aku tersenyum waspada.

Tak banyak (jawabku), hanya mengadu dan tak ada kata kalah,

O…o…. Silakan teman, engkau sudah di tunggu perwiraku, mereka siap melumatmu hingga bersih tanpa sisa, apa kamu siap….? (aku tersenyum, dada berdegup kencang, kubayangkan Palembang apa yang tertinggal untuk kujadikan alasan kembali pulang, karena ketakutan)

Hahahaha……hahahahaha….Kukencangkan suaraku menggiring semua ketakutan yang amat sangat, agar semua ketakutan seolah menjadi sirna dan tidak terlihat di ‘matanya’ dan tetap berdiri dengan gagah.

Mari Kita Coba (dadaku tertekan).

Sebelum pertarungan dimulai, kukeluarkan sedikit demi sedikit semua ketakutan dalam bentuk “Air Seni Kegugupan” Dalam toilet bersejarah, yang telah memaksaku untuk terus berlaga dalam semua kondisi arena. Dengan santai dan tanpa beban, kuayunkan langkah menuju arena, menerobos semua rintangan. Dan pada akhirnya…..

16 juli adalah penentuan….

One comment

  1. Oke Sahabat, semoga kamu mendapatkan apa yang dicita-citakan.
    Sudah kita sadari bahwa hidup adalah perjuangan, tapi perjuangan tanpa doa adalah suatu bentuk dari kesombongan dan doa tanpa perjuangan adalah omong kosong.
    Heng on istiqomah, Sukses!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s