Bulan: November 2008

Intermezzo di Sebuah Kamar Kost 2.5×1.8 m

11 Nopember 2008 pkl 6:03

Sambil mendengar i radio Fm Bandung…

Penyiar menyatakan bahwa ” penelitian membuktikan; sebaiknya orang tua sejak dini memperkenalkan hobi kepada anak-anak mereka, karena dengan memperkenalkan bermacam hobi dapat meningkatkan kepercayaan diri, karena mereka mengetahui sejak dini kemampuan yang mereka miliki.

Ada pengalaman penulis, hobi akan berpengaruh:

  1. Meningkatkan konsentrasi
  2. Meringankan beban pemikiran (mengurangi stress)
  3. Dapat dijadikan sumber penghasilan sampingan (UUD=Ujung-Ujungnya Duit)
  4. Meningkatkan imajinasi
  5. Dengan hobi sedikit terlena dalam memikirkan makhluk bernama Wanita heheheehhee

Beberapa Menit Bersama Arifin Panigoro

Kuliah umum Arifin Panigoro, menyimpulkan bahwa menjadi pengusaha bukanlah hal yang “mudah”. Selain diperlukan kecermatan, ketajaman, serta jeli menilai sesuatu untuk dijadikan peluang bisnis apapun bentuknya. Karena sesuatu menurut kacamata pengusaha adalah ”menguntungkan” atau tidak…? bila ada peluang, manfaatkan… serius dengan itu dan buat frame-frame keberhasilan dalam fikiran untuk menjadi seperti yang kita inginkan.
Berani…? tentu saja, karena tanpa keberanian maka apapun itu tidak akan membuahkan hasil….

Untuk itu berani dan analisa peluang bisnis masa depan modal utama calon pengusaha muda.

Trend materi usaha masa depan, energi terbarukan (bioenergi), pangan, dan perumahan….!!!

Untuk itu, peluang yang mesti di ”intip” saat ini adalah bagaimana mencari lahan yang sesuai untuk:
1. Pengembangan Bioenergi (Trend Global)
2. Pangan (Pengembangan Bersama Untuk Konversi ”bahan bioenergi” berdampingan dengan Pengadaan Usaha Pangan Bersama)
3. Perumahan (Properti), analisa; trend pengembangan konsep model perumahan masa kini, modern, artistik, tepat guna, terintegrasi, mudah dijangkau.
4. Distro, konveksi, pecah belah (mikro)

Siapkan SDM dan ”Main Frame” pengembangan yang akan dicapai (skala target waktu)

Permasalahan yang ada:
1. Pengalaman aplikatif belum memadai
2. Modal awal belum ada
3. Kecendrungan menjadi ”pekerja” masih tinggi
4. Relasi masih sempit
5. Keberanian spekulasi belum memadai
(lebih…)

Air Kost Habis….

Air Kost Habis, sudah seminggu tidak mandi sore. Untung tinggal di Bandung, keringat tidak banyak yang keluar, jadi tidak wajib mandi sore, begitu kata mahasiswa sebelah kamar ku. Lain lagi dengan teman dari Palembangku, dia bilang Kok toilet tidak ada sub siteng (benar g tulisannya) jadi pas aku liat ke belakang E…ee kok langsung Nyemplung. Gimana ya…?? Ya sudah, karena sepanjang jalan taman hewan para toiletnya pada sama, langsung nyemplung gak disetel dulu kayak di rumah-rumah. Parahnya lagi di belakang pipa ada orang-orang bekerja memasang pipa, makanya pas suatu siang ada hasrat, jadi serbasalah mau gimana, padahal hasratnya terus memuncak, ya mau gimana lagi, sambil mengucapkan “bapak-bapak maafkan saya, bukan disengaja, terpaksa melakukan hasrat karena memang mendesak, maafkan ya Pak” langsung ….. blessss segerrrr. Aku tidak tau bagaimana reaksi pemasang pipa dibelakang rumah, tapi setidaknya aku sudah minta maaf walau Cuma dalam hati.
Air dalam bak mandi di kost minggu-minggu ini sepertinya selalu kekurangan, apalagi kedatangan penduduk baru dalam kost sedihnya lagi nih penduduk kayak onta aja, mandi bar bur bar bur, kayak gak tau saja air kost terbatas. Lebih pedas lagi teman yang dari palembang bilang sepertinya orang ”awak” itu yang banyak benar memakai air. Hasilnya pas jam 11 siang, air dari bak yang berukuran 3 x 1 x 1 itu sudah bersisa hanya seperempat saja. Inilah modal air yang harus digunakan untuk manusia sekitar 15 orang dewasa. Sederhana memang, tapi ini tidak bisa diabaikan kalau ada hasrat dimalam hari, bagaimana jadinya. Wah gak terbayang, harus tidur tanpa cebok dulu, hahahha.

Indralaya – Bandung , 10 Oktober 2008

Jam 7 bangun tidur, kulihat kedua teman kuliah teknik mesin dulu dimana tempat aku bermalam sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat itu aku hanya berfikir untuk bisa secepatnya menuju Bank S, untuk kemudian mengganti ATMku yang terbelokir karena keteledoranku sendiri.
Jam 8.15 WIB aku sudah berada di Bank S, langsung menuju bagian customer service. Dihadapannnya aku kemukakan semua keluhan, dan beliau membukakan blokir kartuku, dan menyuruh mencoba memasukan kembali pin aku yang lupa kemarin. Tetapi aku benar-benar lupa dengan pin itu. Akhirnya dia menyerahkan formulir baru untuk mengganti dengan kartu ATM baru. Namun sebelum itu aku diminta memberikan fotocopi KTP, tanpa diminta aku memberikan KTP asliku, dengan asumsi Bank S akan memberikan pelayanan yang sama dengan bank-bank lainnya. Yaitu dengan segera memfotokopi sendiri KTP customer (biasanya bank memiliki mesin fotocopi sendiri, tetapi di bank ini sepertinya tidak ada mesin itu) atau setidaknya menyuruh satpam disampingnya (yang terlihat berleha-leha dan termenung saja) untuk membantu memfotocopi KTP tersebut. Sehingga pelayanan lebih lancar. Tapi anehnya, saya disuruh sendiri memfotokopi KTP lebih parahnya lagi tempat memfotocopi itu jauh dari Bank, sehingga membuang waktu percuma. Busyet dah…..

Akhirnya seleseai juga mengganti kartu ATM di customer service, aku langsung menuju teller untuk ngeprint buku tabungan untuk mengetahui transaksi selama tiga bulan terakhir, di depan teller yang berjumlah dua orang itu kulihat satu yang sibuk beraktivitas, dan yang satu lagi fokus membaca majalah wanita, dan disebelahnya ada bunyi MP3 HP. Dan ketika aku memanggilnya dia seolah-olah tak mendengar, kulihat pula tidak ada nama identitasnya. Wah ini sudah tidak beres fikirku, aku mulai ragu untuk menggunakan Bank S bila melihat kinerja karyawannya seperti ini. Sembari menunggu buku di print, aku memperhatikan tata letak ruang, dan semua perlengkapan bank, tampak tidak rapi dan …. aku tidak mau berbicara lebih jauh, tapi aku berkesimpulan bahwa aku ”kecewa”.
(lebih…)

Senandung Harian “Minggu”

Seberapa besar kita menghargai hidup ini adalah bagaimana kita menghargai masa depan, menghargai hidup dengan mengetahui hidup ini sebenarnya untuk apa, seberapa bergunanya diri ini, untuk sendiri, saudara, dan pada akhirnya untuk orang lain. Orang mana saja, orang dengan raut muka, dan raut tanpa senyum sapa. Adalah indah dunia dengan cita-cita, dengan mimpi besar, dan imajinasi idealisme kita.

Seberapa besar kecintaan, seberapa besar impian, dan seberapa besar kemauan, adalah mutlak dilakukan. Mimpi tak pernah mati untuk memberi setiap insan, memberi arti kehidupan, menjadi terbaik, dan selalu siap dengan apapun kemampuan..

Seberapa cinta, dan keegoan tak pernah bersatu. Begitu kata teman dan sempat menghentakkan…!!! akankah sebuah mimpi ini akan datang…??? berapa waktu yang terhabiskan untuk sebuah mimpi indah. Adalah ketidaktahuan merupakan kenangan indah setiap orang, dalam menjamah, dan menterjemahkan mimpi itu.

Setiap jiwa tertekan, dan wajah-wajah ketakutan, adakalanya menuai mimpi dan akhirnya terbuai, dan mati.

Lencana-lencana mereka, adalah sumber inspirasi. Inspirasi yang teguh dan tanpa luluh dan selalu menyemai, dan benih-benih itu semoga akan tumbuh dan akhirnya berkembang menjadi sebuah mimpi yang terwujud.

Kebanggaan akan diri, perlu untuk kita sadari. Untuk diminati sebagai kemampuan menebar unsur positif kepada apapun. Tebar pesona, dan unsur-unsur cinta, tentu bukan kesalahan.

Kemampuan harusnya menjadi dasar yang nyata untuk berbuat kebaikan. Adalah tak berguna bila hanya tersenyum dan akhirnya terjebak tanpa suatu perbuatan. Memandang cermin adalah baik dan perlu adanya. Tapi bukan sebuah kehidupan Narsis yang ”mandul” tak berguna. Banyaknya masalah tentunya bukan hambatan, itulah dinamika. Cetuskanlah sebuah ide, ide romantis dan tak pernah ada dimuka bumi ini.

Sekarang, adalah saatnya untuk berbuat, bukan berteori manis.
Mulai bekerja menganalisa, mencapai mimpi yang tinggi adalah sebuah “ibadah” juga.

Hamparan ide dan masukan, akan bersemangat tentunya buat kita bersama. Segala macam tipu daya akan terkuak bila sampai waktunya. Ceritakan, ceritakan dengan indah, sesuatu yang menarik dan menghayutkan. Bicara, tentunya tak berbayar kan? Makanya liputi semua dengan satu komitmen indah, buat kita tersenyum dan katakan dengan suatu pola, kita akan membuat dunia indah dan lebih berwarna.

Tulislah sesuatu, kabarkan tentang kita, tentang mereka yang perlu dikoreksi, dan nilai rapor kita yang sama-sama ”merah” namun itu bukan segalanya………… itu hanya topeng belaka.

Cinta kita, akan berseri bila waktunya telah tiba.

Buat seseorang, yang katanya sih baru kenal….

Bandung…..
Dingin, angin semilir membelai rambut terjuntai membayang mata

Tetesan embun, bekas hujan sore tadi masih menjutai indah dan menyegarkan
Sederet mobil macet membuat kesal karena pejabat, terlihat di aura pengemudinya
Polisi bertongkat berlampu warna mondar-mandir di depan mata, mereka cekatan…
Seolah mendayung perahu rindu

Menu makan malam terhidang didepan mata, seperti biasa…
Senyuman pedagang, mengembang saat ku datang.
Pelanggan setia,  mungkin begitu dalam hatinya

Hari ini, aku kagum dengan jiwaku.
Meski terprosok dalam lubang-lubang yang sama, selalu, dan bahkan hampir selalu….
Setiap kelembutan malam, pelukan udara Bandung, membuat lena, dan mashyuk….
Aku lalai lagi, aku terlambat bangun lagi, aku tidak sempat sarapan lagi… begitu dan begitu seterusnya.

Semalam, aku membuat sejarah.
Tak akan kulupakan, untuk sekian lama dan mungkin untuk selama-lamanya
Aku merelakan semua ”rasa maluku” untuk sebuah ungkapan….
Ya… sebuah ungkapan, yang mungkin tak akan pernah terucap oleh seorang yang lagi normal…. lalu aku ternyata mengungkapkan itu, aku tidak normal…..???

Senandung kata cinta… namun lebih dari cinta biasa…