Indralaya – Bandung , 10 Oktober 2008

Jam 7 bangun tidur, kulihat kedua teman kuliah teknik mesin dulu dimana tempat aku bermalam sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat itu aku hanya berfikir untuk bisa secepatnya menuju Bank S, untuk kemudian mengganti ATMku yang terbelokir karena keteledoranku sendiri.
Jam 8.15 WIB aku sudah berada di Bank S, langsung menuju bagian customer service. Dihadapannnya aku kemukakan semua keluhan, dan beliau membukakan blokir kartuku, dan menyuruh mencoba memasukan kembali pin aku yang lupa kemarin. Tetapi aku benar-benar lupa dengan pin itu. Akhirnya dia menyerahkan formulir baru untuk mengganti dengan kartu ATM baru. Namun sebelum itu aku diminta memberikan fotocopi KTP, tanpa diminta aku memberikan KTP asliku, dengan asumsi Bank S akan memberikan pelayanan yang sama dengan bank-bank lainnya. Yaitu dengan segera memfotokopi sendiri KTP customer (biasanya bank memiliki mesin fotocopi sendiri, tetapi di bank ini sepertinya tidak ada mesin itu) atau setidaknya menyuruh satpam disampingnya (yang terlihat berleha-leha dan termenung saja) untuk membantu memfotocopi KTP tersebut. Sehingga pelayanan lebih lancar. Tapi anehnya, saya disuruh sendiri memfotokopi KTP lebih parahnya lagi tempat memfotocopi itu jauh dari Bank, sehingga membuang waktu percuma. Busyet dah…..

Akhirnya seleseai juga mengganti kartu ATM di customer service, aku langsung menuju teller untuk ngeprint buku tabungan untuk mengetahui transaksi selama tiga bulan terakhir, di depan teller yang berjumlah dua orang itu kulihat satu yang sibuk beraktivitas, dan yang satu lagi fokus membaca majalah wanita, dan disebelahnya ada bunyi MP3 HP. Dan ketika aku memanggilnya dia seolah-olah tak mendengar, kulihat pula tidak ada nama identitasnya. Wah ini sudah tidak beres fikirku, aku mulai ragu untuk menggunakan Bank S bila melihat kinerja karyawannya seperti ini. Sembari menunggu buku di print, aku memperhatikan tata letak ruang, dan semua perlengkapan bank, tampak tidak rapi dan …. aku tidak mau berbicara lebih jauh, tapi aku berkesimpulan bahwa aku ”kecewa”.
Pertemuan di Kapal Ferry Nusa Jaya Jakarta
Aku merasa perjalanan Indralaya-Lampung begitu jauh, sehingga rasanya lama sekali aku berada dalam bis yang kusewa Rp 150.000,- (tentunya harga nego ditepi jalan, kalau harga loket tentu bisa 200an lebih harganya). Padahal bis itu Cuma satu kali berhenti untuk makan siang saja, sedangkan waktu makan malam tidak berhenti sama sekali. Akhirnya sampai juga aku ke pelabuhan bakauheni, dan ngantri disana selama 30 menit lebih, dengan sentuhan intermezo para pedagang asongan mi instan, dan beberapa orang pengamen dan hentakan gertak mereka karena aku sama sekali tidak memberikan ”rasa sosialku” kepada mereka membuat mereka sedikit kecewa, namun bugemku sudah siap menyambut mereka bila mereka berbuat macam-macam, bukankah waspada itu lebih baik? Tidak berapa lama aku sudah berada di atas Ferry dan langsung mencari pedagang nasi di atas kapal, yang terkenal dengan harga tinggi. Namun saat itu harga bukan suatu halangan yang terpenting aku bisa mengisi perutku dengan nasi, bukan sebungkus mi instan lagi seperti pada saat ngantri sebelum menyebrang tadi.
Setelah menghabiskan sebungkus nasi dan sedikit lauk penyertanya, aku sudah siap menghadang angin malam sendirian di atas kapal Nusa Jaya dan berharap kembali ke kota Bandung dengan semua bara cita-cita yang siap menghaguskan semua hambatan dan halangan. Inilah aku, aku bukan siapa-siapa, tapi aku bisa berbuat apa-apa dan berhasil sukses, aku memecah semangat untuk tetap bertahan, memuji diri.

Intermezo kembali lagi, diantrian bis hanya terdiri dari para pengamen dan sedikit pedagang asongan, namun di atas kapal bertambah dengan para pedagang tas pinggang dan beberapa pedagang obat yang membuat penumpang kapal sedikit terhibur dengan ulah dan aksi mereka menawarkan dagangan. Aku pun sempat tesenyum..

Puas di atas geladak kapal, aku turun ke lantai dua kapal. Menikmati suasana malam yang sangat indah, disertai bulan dan bintang bertaburan, merayu dan menggoda. Aku membayangkan seseorang pasangan hidup, yang sesuai dengan selera dan tifikal pribadi dan keluarga besarku. Ah…fikirku, aku seperti terbuai alunan nada harmoni jiwa dengan semua angan yang indah-indah, layaknya seperti rentetan warna-warni lampu-lampu malam diseberang lautan yang kunaiki.

Kelap-kelip membuai dan menidurkan, membuat tertegun dan sedikit berbisik Oh.. dinda dimana engkau sekarang berada, temani diri ini, tubuh yang renta dan ternoda ini, yang mengharap seorang pendamping setia, yang hidup apa adanya, dengan kecerdasan fikirmu dan kelembutan hatimu mebuat aku terlena dalam satu dekapan hangat bersamamu, bersamamu saja, tidak untuk yang lain. Tak kan kulepas dirimu dinda, dalam sebuah kesedihan, dan kenestapaan hidup ini. Biarkan, biarkan hidup ini mereguk dan mengajak engkau melakukan sesuatu yang indah dan membuat kita terlena dalam sebuah kebahagiaan dan ketaatan menghamba padaNya. Hempasan gelombang ombak dan buih-buih mendengar bisikku, dan tersenyum malu dan sempat berkata ”kau pria sejati saat ini”
Kusambut senyum ombak dengan senyumku juga, sepertinya ia tahu kalau aku sedang membayangkan sang pendamping yang setia dan tentunya masih polos dan bersedia kunodai bila telah menikah nanti. Apa boleh buat, ombak telah mendengar bisikku, aku harus berkenan membagi nestapa ini dengan dia sang pendengar sejatiku ”ombak”

One comment

  1. asslmkm mas
    agus aku mau kasih komentar tulisan mu ini….tulisannya jujur bangat…apalagi pada paragraf terakhir ingin mendapatkan pendamping hidup
    “Kusambut senyum ombak dengan senyumku juga, sepertinya ia tahu kalau aku sedang membayangkan sang pendamping yang setia dan tentunya masih polos dan bersedia kunodai bila telah menikah nanti”…..he…he….carilah oi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s