Bulan: Desember 2010

Paduan Alumunium Untuk Pipa Pengeboran Panas Bumi 1

1. PENDAHULUAN

Tujuan dari artikel  ini adalah untuk menentukan peluang penggunaan logam paduan  aluminium (ADP) sebagai pipa pemboran  di lingkungan pengeboran panas bumi.

Saat ini teknologi bidang pemboran sedang melakukan ujicoba untuk membor sumur lebih dalam, lebih cepat, dan mampu mengurangi biaya. Tujuannya adalah  untuk menjadikan energi panas bumi menjadi lebih ekonomis dan mampu bersaing.

Paduan logam alumunium yang digunakan sebagai pipa pemboran kadang-kadang disebut sebagai  pipa pemboran aluminium ringan yang sudah digunakan di rusia selama bertahun-tahun. Logam ini memiliki keuntungan antara lain:

  1. Memungkinkan pipa pemboran dengan diameter casing yang lebih besar dan dinding yang lebih tebal akan meningkatkan aliran fluida di annulus (karena area annulus menjadi lebih sempit)
  2. Mengurangi “pressure loss” dari dalam pipa pemboran, sehingga pompa yang dibutuhkan dengan spesifikasi lebih rendah, namun hasil yang diperoleh sama
  3. Mengurangi beban derrick dan beban per panjang pipa dibanding  pipa baja
  4. Meningkatkan gaya apung dalam cairan pemboran, sehingga rig yang digunakan lebih kecil atau menghasilkan penekanan yang lebih dalam dengan kondisi rig yang digunakan saat ini
  5. Mengurangi sejumlah tegangan beberapa parameter desain pemboran

Skope materi yang akan dipelajari melalui artikel  ini adalah:

  1. Batasan temperatur
  2. Beban kritis tekukan (buckling load)
  3. Kekuatan material
  4. Kandungan kimia fluida panas bumi
  5. Kehilangan tekanan fluida pemboran dan hidrolik
  6. Perbandingan beban
  7. Peralatan  sambungan
  8. Analisa keekonomian (lebih…)
Iklan

Selamat Pagi…

Indahnya pagi ini, indahnya seperti biasa, mentari menyembul dari timur, dan menyinari kami  masuk ke dalam kamar.

Dengan malasnya aku bangun, tetapi karena pada saat subuh ada “sesuatu”, maka tiada pilihan lain selain “mandi”, padahal airnya dingin banget…. hoamm….masih ngantuk rupanya…

Hari ini mau fokus untuk menyelesaikan matakuliah, matakuliah terakhir yang aku ambil di semester ini, mata kuliah yang telah menjadikan aku begitu “betah” tinggal untuk beberapa lama di sini, di kota ini.

Entah karena terpaksa, entah karena memang suratan takdir, maka kuterima semua ini sebagai ujian. hohoho… ujian ke sekian kalinya. Tidak banyak yang aku harapkan, cuma satu kata “lulus” itu sudah lebih dari cukup. (lebih…)

Hai… Namaku Agus….

Malam ini, malam tahun baru hijriah. Artinya, besok pagi sudah bertambah satu tahun umurku di dunia ini, namun secara fakta, umurku berkurang satu tahun.

Tahun yang lalu, adalah tahun jahiliyah. Banyak sudah perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan, namun secara nyata dan sadar tetap saja dilakukan. Tidak terkecuali di bulan-bulan suci, dimana seharusnya semua beribadah mencari keridhoan Allah SWT, namun nyatanya keimananku terjun bebas,  semua tidak mempengaruhi tingkah laku ini.

Sudah banyak topeng-topeng melekat di muka ini, menjadikannya semakin tebal, dan tanpa perasaan bersalah, dan wajah tanpa dosa, semua berjalan apa adanya.  Begitulah keseharianku, kehidupan yang hanya sebentar ini tidak membuat aku menjadi sadar, betapa lemahnya aku, mudahnya terkecoh dengan tipu daya, dan yang lebih parah lagi, semua terjadi berulang kali.

Berkali-kali aku “menyesal” dan berkali kali pula aku “melakukan kesalahan yang sama”. Berkali-kali aku mencoba bangkit, dan berkali juga aku terkapar tanpa daya.  Dari hari-ke hari, minggu ke minggu, dan seterusnya, kulalui kehidupan ini, begitu betah dengan gelimang dosa. Kubalut tubuhku dengan pakaian yang menarik, kupenuhi bibirku dengan buliran kebohongan, seolah-olah aku tidak melakukan apa-apa. Tetapi… seandainya aib ini tidak ditutupi oleh NYA, maka habislah diriku, habislah semua topeng-topengku, dan semua yang melihatku, akan jijik dan bahkan meludah di depan mataku. Ya allah… Ampunilah aku….

Ya Allah, semoga ini bukan menjadi tulisan terakhir saya, untuk kembali bangkit, meski dengan “merangkak” untuk memperoleh kenikmatan yang sesungguhnya. Ya Allah…. semoga malam ini adalah malam yang penuh dengan instropeksi diri, dimana aku menjadi diriku yang sebenarnya… sebelum aku hijrah ke kota ini.

Aku masih merindukan diriku yang dahulu, merindukan keluguan, meski tidak “selugu” yang mereka-mereka kira.  Aku masih merindukan diriku yang dulu, dimana aku masih begitu takut, mendengar, dan membayangkan kobaran api di nerakaMU.  (lebih…)