Selamat Pagi…

Indahnya pagi ini, indahnya seperti biasa, mentari menyembul dari timur, dan menyinari kami  masuk ke dalam kamar.

Dengan malasnya aku bangun, tetapi karena pada saat subuh ada “sesuatu”, maka tiada pilihan lain selain “mandi”, padahal airnya dingin banget…. hoamm….masih ngantuk rupanya…

Hari ini mau fokus untuk menyelesaikan matakuliah, matakuliah terakhir yang aku ambil di semester ini, mata kuliah yang telah menjadikan aku begitu “betah” tinggal untuk beberapa lama di sini, di kota ini.

Entah karena terpaksa, entah karena memang suratan takdir, maka kuterima semua ini sebagai ujian. hohoho… ujian ke sekian kalinya. Tidak banyak yang aku harapkan, cuma satu kata “lulus” itu sudah lebih dari cukup.

Aku sangat berharap  dengan kelulusan ini, karena tanpa kelulusan ini, maka tak kuat lagi rasanya untuk melanjutkan kuliah yang sama pada semester-semester selanjutnya.  Ada kata bijak sebenarnya begitu mengena dengan kondisiku saat ini, banyak usaha berhasil di depan mata, sedikit usaha terimalah dengan lapang dada…. ahay…sebuah kata bijak yang sebetulnya “mengejekku” tapi ya… sudahlah, semua harus berjalan, hidup harus diteruskan, usaha harus terus dijalankan.

Dengan sedikit sentuhan pengganjal perut, dan secangkir kopi tubruk asli Semendo, maka kuuraikan sedikit pristiwa di pagi ini:

1. Pagi yang cerah, indah, dan mempesona menyambut aku untuk bangun dan mengucapkan “selamat pagi”

2. Sedikit sarapan “mi instan”  + “secangkir kopi hitam” menemani pagi ini, berikut  sentuhan aroma tanaman kangkung yang kutanam bulan lalu, membuat aku tertegun sebentar disamping mereka sebelum memulai aktivitas apapun, dan kubisikkan sebuah kata…. tumbuhlah, dan bercabanglah, engkau akan menjadi harapan kami, harapan pemenuhan serat kami, disaat kami membutuhkanmu… ah entahlah, setiap pagi kuucapkan ini, meski hanya dalam waktu yang singkat, namun aku butuh untuk mengucapkannya… semoga tanamanku ini menjadi tumbuh, berkembang, dan akhirnya akan bermanfaat untuk kami semua.

3. Lagi…lagi dan lagi, suara bising motor penghuni “asrama” menjadi ajang pamer bunyi knalpot, membuat risih, dan sedikit menyebalkan. Apa sebenarnya yang dicari dengan menmbunyikan knalpot besar-besar…? tidak ada untungnya sama sekali, bahkan hanya membuang energi saja, apalagi sekarang bensin akan naik harganya, dan subsidi BBM akan dikurangi… ah, sudahlah mungkin mereka menginginkan semua itu, atau karena itu adalah kesenangan pribadi pemuda-pemuda yang sedang beranjak dewasa, sebagai orang yang “lebih tua” maka maklum adalah jalan keluar terbaik sekarang. huffffsssss…..ahhhhhhhhhhhhh…. akhirnya mereka sudah pergi…. lega…. rasa telinga ini.

4. Whuaaaaa…. saatnya aku beraksi, membuka-buka buku pelajaran kembali… mumpung mentari belum tinggi, dan suara azan belum memanggil… mari kita lanjutkan perjuangan… perjuangan pemuda di zaman ini, zaman transisi, zaman dengan keanehan yang dibuat oleh kebodohan yang disengaja… hohoho

:-*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s