Memeras Ide Menghajarnya dengan Aksi

Beberapa waktu yang lalu, (sudah lupa kapan saya mulai memikirkannya saking sudah lamanya) seringkali muncul dalam benak untuk selalu setia dengan diri sendiri. Setia dengan komitmen sendiri, dan setia dengan apa yang sudah dijanjikan sendiri. Kesetiaan dengan diri sendiri adalah suatu yang berat bagi saya. mungkin juga bagi pembaca. Ketika kita dihadapkan pada problem diri sendiri, komitmen sendiri, maka tidak ada alasan untuk berbohong atau berpaling untuk tidak melakukannya.

Saya memiliki banyak sekali impian, baik untuk kepentingan diri sendiri, maupun untuk kepentingan bersama. Tanpa segan saya pernah bermimpi suatu saat saya akan menjadi seorang professional yang sukses, dan secara berbarengan menjadi seorang penulis yang sukses.

Ketertarikan untuk melakoni kedua posisi tersebut ternyata sudah terbuka lebar. Tidak ada satupun pintu yang tertutup. Semua juga telah menarik-narik lengan saya untuk ikut dan terjun bersama dalam biduk kebersamaan itu. Namun apa daya, komitmen yang saya bangun masih begitu lemah. Dinding-dindingnya masih seperti sebuah kertas, yang tidak mampu menahan gempuran kemalasan dan ketidakberdayaan. Namun waktu terus berlalu, tetapi saya masih dalam kebimbangan ini.šŸ˜¦

Dengan artikel sederhana ini, aku mencoba untuk sedikit menggali, potensi yang sempat ada dalam diriku untuk kembali berbunga. Ingin kupupuk dengan cinta, dan kusiram dengan butiran-butiran optimisme, dan nanti bisa berbuah, ranum dan rasanya manis menyegarkan.

Untuk menjadi professional di bidang yang saya geluti, harus dicatat langkah demi langkah apa-apa yang akan saya lakukan besok, lusa, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan. Agar mudah untuk merangkainya menjadi hasil yang dapat dilihat dan dirasakan.Ā  Ada satu yang harus aku lakukan, langkah harus detil dan kontinyu serta berurut satu demi satu.

Selalu sediakan buku catatan kecil, agar semua ide dan langkah-langkah yang terlewatkan, bisa di buka kembali. Untuk dievaluasi, dievaluasi, dan evaluasi.

Preparation, preparation, preparation… rangkaian tiga kata yang sama untuk satu tujuan. Harus selalu dicamkan dalam benak, agar semua pekerjaan dapat dilakukan dengan baik.

Urutan pekerjaan merupakan suatu keharusan, karena dengan urutan akan diketahui langkah-langkah sebuah pekerjaan. Namun apabila tipe orang seperti saya yang belum terbiasa melakukan pekerjaan secara urut, pekerjaan yang harus dilakukan dengan urutan yang ketat sangat membosankan. Tetapi karena ini kewajiban yang harus dilakukan maka mau atau tidak mau harus dilakukan. Jadi kesimpulan dalam paragraf ini adalah kewajiban untuk melakukan urutan dalam setiap kegiatan hal ini harus dipaksa dan dibiasakan.

Kesimpulan dari artikel sederhana ini adalah: Catat ide yang akan dituangkan dalam buku kecil, kemudian lakukan persiapan dengan matang apa yang menjadi tujuan, dan lakukan dengan urut. Langkah terakhir adalah…. kerjakan sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s