Opini

Menghadapi Masa Depan

Masa depan adalah misteri, saat ini adalah tantangan, dan besok adalah harapan.

Posisi yang sekarang menjadi titik nyaman, mungkin tidak selamanya akan seperti ini. Besok ataupun lusa, tentu akan ada perubahan yang mungkin terjadi secara berlahan, atau mungkin secepat kilat. Selama masih bisa bernafas, maka selama itupula kita dituntut untuk bekerja, berkreatifitas, dan berencana mau seperti apa kita dimasa depan.

Alhamdulillah, satu demi satu cita-cita sudah tercapai. Bermacam keberhasilan dan pertemuan hidup berpadu satu menjadi sebaris pengalaman. Pertemuan, perpisahan, silih berganti tanpa jemu memihak kita. Tawa riang, sedih senang, semuanya seperti menjadi urat nadi dalam tubuh kita, mendesir, dan berputar menjadi irama sendiri yang sangat berarti.

Saat ini, posisi ini, merupakan cita-cita yang pernah ada dalam benak sebelum menginjak remaja. Dengan semua idealisme dalam kepala, menghantarkan aku ke dunia ini, sesuai dengan tatapan kosong ketika masa peralihan dahulu. Dan aku sudah mendapatkannya… Alhamdulillah.

Ya… Bulan ini, ketika saya mengetikkan kata-kata ini, saya menyatakan sudah genap 2 tahun saya berada di posisi yang sekarang. Dan mungkin ini posisi yang cocok untuk saya di kemudian hari, atau sebagai salah satu rangkaian pengalaman yang harus aku lewati untuk mencapai cita-cita saya selanjutnya. entahlah… saya tidak tahu pasti….. biarkanlah waktu nanti akan menjawab, saya hanya butuh persiapan πŸ˜€

Setidaknya sudah ada sedikit awalan yang aku coretkan dalam blog ini, tentang bagaimana kegundahan, menahan perasaan, mungkin juga menahan “keegoisanku” dalam memaknai hidup ini, hingga akhirnya daku memilih suatu jalan yang sedikit menyimpang dari apa yang sudah aku bayangkan sewaktu kecil.

Oke, kita kembali ke judul…..

Menghadapi masa depan, aku sudah mempersiapkan diri, baik mental, ekonomi, dan resiko-resiko yang mesti saya dipikul selepas dari kondisi saat ini.

  • Aku harus siap melawan semua kebimbangan dari pribadi orang-orang terdekat, yang mungkin akan mempengaruhi keputusan ini untuk tetap berfikir realistis dan tidak menjadi seseorang yang merugi dikemudian hari, aku harus siap
  • Sebagai manusia yang memiliki tanggungan untuk keluarga, tentu berfikir keras untuk bisa mencukupi kebutuhan tersebut selepas dari kondisi saat ini, dan ini juga menjadi perhatian khusus sebelum melangkah
  • Pergaulan yang selama ini aku rangkai dengan berbagai macam latar belakang, mungkin terjadi pergesekan yang secara sadar dan tidak sadar telah terbentuk dengan sendirinya akibat dari penggiringan opini yang mungkin terjadi akibat perjalanan panjang yang aku lalui

Semua kemungkinan itu ada, dan setiap kemungkinan bisa menjadi langkah kita untuk tetap waspada menghadapi masa depan. Sejalan dengan waktu berjalan, aku mulai membuat suatu rencana untuk mewujudkan cita-cita selanjutnya, yaitu menjadi manusia yang bebas (waktu dan financial) serta memiliki daya tawar terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat. Pada akhirnya usaha yang akan dirintis bermanfaat seluasnya bagi keluarga, masyarakat, dan agama yang aku anut.

Mudah-mudahan, dengan langkah kecil dalam tulisan ini, terus menguatkanku untuk bangkit dan menerobos semua kegalauan yang selama ini aku rasakan, dan pada akhirnya nanti aku menghadap pada yang kuasa memiliki modal yang cukup untuk setidaknya masuk ke dalam syurga nya Allah, SWT meskipun bukan yang mendapat giliran ketiga.

Yess… apa persiapan untuk menghadapi masa depan…???

  1. Mulai berdisiplin diri
  2. Tidak menunda pekerjaan
  3. Fokus dalam bekerja
  4. Perbanyak koneksi / network / ilmu yang bersesuaian

Insya Allah 2 tahun yang akan datang, aku bisa menjawab apa yang saya kerjakan hari ini, sudah memiliki jawaban, atau sedang dalam proses pematangan.

Saya percaya, saya bisa…..

Iklan

Sederhana Tapi Mendunia, Setelah Itu Dimatikan Saja

Fenomena Flappy Bird

Fenomena Flappy Bird

“Flappy Bird” Begitulah nama game yang saat ini sedang menjadi pembahasan dunia maya. Sebuah kejadian yang menurut para pecinta game “burung terbang” penuh dengan kejutan. Betapa tidak, sebuah game sederhana yang konon katanyaΒ  dibuat hanya dalam waktu dua hingga tiga hari (oleh Dong Nguyen dari Vietnam) bisa menghasilkan pendapatan Rp. 600.000.000,- dalam satu hari.

Wow…. suatu pendapatan yang sangat besar. Tentu sebuah kejutan dilihat dari pencapaian penghasilan untuk sebuah game ringan yang dibuat oleh seorang saja.

Lebih terkejutnya lagi, ketika game tersebut sedang jaya-jayanya, sang pencipta (Dong Nguyen) serta merta mengumumkan akan meghapus game tersebut dari pasaran “iTunes App Store dan Google Play”.

Mungkin sebagian besar orang di dunia akan menyayangkan penghapusan game tersebut di pasaran. Karena posisi game tersebut sedang berada di puncak kesuksesannya, apalagi didukung oleh banyaknya iklan yang mampu memenuhi pundi-pundi uang pemilik game tersebut.

Namun ternyata fakta berbeda, bertikut kutipan peryataan Don Nguyen yang saya peroleh dari beberapa portal berita:

“Saya minta maaf, pengguna Flappy Bird, 22 jam dari sekarang, saya akan mencabut Flappy Bird,” bunyi pengumuman Dong melalui akun Twitter miliknya, Sabtu (9/2/2014).

“Flappy Bird didesain untuk dimainkan selama beberapa menit pada saat Anda sedang berelaksasi,” kata Nguyen.

“Namun, game ini (Flappy Bird) akhirnya menjadi produk adiktif. Saya rasa hal tersebut telah menjadi masalah. Untuk menyelesaikan masalah itu, hal terbaik adalah menarik Flappy Bird. Game ini telah hilang selamanya.”

Pemuda asal Vietnam itu juga menjelaskan bahwa rasa bersalah membuat banyak pengguna ketagihan game tersebut yang membuatnya mantap mengambil keputusan.

Sebelumnya, Nguyen sempat menyebut popularitas yang didapatkan game ini telah merusak “hidupnya yang sederhana”.

“Saya tidak merasa ini (keputusan penarikan) sebagai suatu kesalahan. Saya telah memikirkannya matang-matang,” ungkap Nguyen.

Ok… Stop disini saja. (lebih…)

“Next” untuk membaca artikel selanjutnya “

Sebagai media hiburan, portal berita menjadi sebagai tempat untuk mencari informasi dengan membaca-baca artikel dan berita terkini yang sedang terjadi di Indonesia dan dunia. Tetapi, adakalanya portal-portal berita tersebut membuat pembaca menjadi dongkol 😦 . Hal ini disebabkan oleh artikel yang tidak selesai pada halaman pertama dari berita tersebut. Dan pembaca “dipaksa” untuk menekan tombol “Next” untuk bisa melanjutkan membaca berita/artikel tersebut.

Pendapat saya, untuk portal-portal berita yang ada, sebaiknya selesaikan dalam 1 halaman saja. Sehingga pengunjung portal tidak menjadi bosan dan jenuh dengan adanya halaman-halaman berikutnya yang harus kita klik agar artikel tersebut tersampaikan dengan sempurna.

Mungkin cara ini merupakan trik pemasaran mereka, dengan cara “mereload” atau “merefresh” sebanyak mungkin tampilan website dengan harapan iklan-iklan yang ada menjadi berganti dengan iklan-iklan lainnya. Sehingga traffic website mereka menjadi meningkat.

Tetapi, trik tersebut sangat merugikan pengunjung, selain memperlambat loading, menghabiskan bandwith dan membuat pembaca lelah. Pada akhirnya pengunjung akan beralih ke portal berita lainnya yang tidak mensyaratkan pengunjung untuk Klik “Next” untuk membaca artikel selanjutnya

Pada dasarnya untuk sebuah artikel yang cukup panjang fitur “Next” sangat berguna untuk membuat jeda bagi pembaca agar tidak mengalami kelelahan dalam membaca artikel tersebut. Tetapi bila artikel terdiri dari hanya beberapa paragraf saja sudah diberikan Next, dan bahkan bisa lebih dari 6 halaman (padahal artikelnya pendek-pendek dan bisa dijadikan 1 halaman penuh), maka itu sangat membosankan, dan memaksa saya sendiri (contohnya) untuk beralih ke portal lain.

Ini adalah curhat saya kepada pengelola portal berita, saya tidak menyebutkan dari website mana, tetapi portal tersebut cukup terkenal saat ini.

Mungkin bila ada yang setuju dengan pendapat saya, bisa berkomentar di bawah ini πŸ™‚

Tujuh Alasan Kenapa Harus Resign…..

Ketika memutuskan untuk reisgn dari perusahaan tempat bekerja saat ini, setidaknya dipengaruhi oleh 7 alasan berikut ini.

  1. Sudah tidak cocok dengan atmosfir (lingkungan) kerja saat ini. Ketidak cocokan disebabkan cara pandang berbeda mengenai arah perusahaan oleh pemangku kepentingan secara luas (atasan, rekan, kontraktor, dan pemangku kepentingan lainnya)
  2. Ketidak sesuaian cara pandang kita dengan atasan (atasan terlalu bossy, atau kita yang tidak mau diatur dengan gaya atasan seperti itu) πŸ˜›
  3. Keluarga tidak mau jauh-jauh dengan kita. Terutama anak dan istri, mereka menginginkan kita memiliki waktu yang banyak di keluarga, meskipun gaji bekerja jauh dari keluarga lebih besar, tidak menjadikan mereka bahagia dengan kondisi tersebut. So… saatnya resign dipertimbangkan. (point ini ada hubungan dengan point nomor 4)
  4. Waktu…waktu…waktu… Ketika kita bekerja jauh dari keluarga, maka waktu libur sangat-sangat dinantikan. Tetapi, bila waktu-waktu yang diharapkan tersebut “terhalang” atau “terlambat” atau “…” atau “…” karena berbagai alasan lain, maka…. wow…. sangat tidak wenak sekali. hahahaha. Ketika waktu libur anda terusik, saatnya anda mulai meilirik kanan dan meilirik kiri πŸ˜€
  5. Cari info di internet, apakah banyak cerita orang-orang yang resign menyesal setelah resign dari perusahaan lama? kalau jawabannya banyak yang menyesal, maka tunda rencana resign anda, tetapi kebanyakan cerita-cerita di internet membuktikan, kalau banyak yang tidak menyesal setelah resign, bahkan lebih nyaman setelah mereka resign dari pekerjaan tersebut.
  6. Bekerja tidak hanya mencari uang, tetapi mencari kesenangan, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri, dan tentunya untuk menjalankan idealisme kita akan suatu cita-cita tertentu. Ketika kita sudah tidak merasakan itu, resign bisa menjadi pilihan.
  7. Ketika kita sudah berhitung mengenai kebutuhan hidup, besarnya cicilan yang mesti kita bayar, dan ternyata kita sudah mampu memenuhi kebutuhan tersebut dengan bekerja di tempat lain, maka saatnya resign segera diputuskan, supaya kita menjadi lebih cepat merealisasikan cita-cita kita yang lain.

Dengan ketujuh alasan di atas, maka langkah selanjutnya tinggal ditanyakan kepada diri sendiri, kalau sudah fix, maka kita saatnya berdamai dengan diri kita. Yupsss…. saya resign….

Helllooo…. Gue Galau Gitu Lohhhhh…..

Dunia persilatan sedang mengalami sebuah perubahan atmosfir, dimana seorang pendekar gagah perkakas,, e salah gagah perkasa sedang galau…. galau akan masa depan, galau apakah keputusan yang diambil hasilnya akan menjadi jalan terbaik bagi sang pendekar dan keluarganya…..

Tak dipungkiri, setelah berpindahnya lokasi pertapaan sang pendekar dari lembah kemacetan ke bukit penuh kabut, telah merubah ketetapan sang pendekar. Mimpi-mimpi dari sang guru dan suhu, yang telah mengalir dalam darah sang pendekar sepertinya mendidih, bergolak dan berubah menjadi “kegalauan”.

Ilmu-ilmu kanuragan, ilmu pati geni, dan ilmu siluman kerbau menanduk rusa yang sudah di pelajari di lembah kemacetan seolah tak sanggup bertahan, digempur oleh aura hitam bukit kabut penuh lumut.

Woww…. pendekar galau… ilmu kanuragan yang mandul….. dan tamparan aura hitam beracun dari petapa bukit berkabut telah mematahkan semua ilmu kanuragan sang pendekar.

Saatnya sang pendekar harus maju selangkah, untuk tetap menjadi pemenang. Karena, jika terus dihadapi, tentu pendekar menang, tetapi sang pendekar cilik yang akan datang akan menjadi kesepian.

Yups…. kita harus “memajukan diri” membenahi diri pendekar dengan ilmu kanuragan lainnya, untuk kemudian naik gunung menantang “duel” sang petapa di bukit berkabut dan berlumut.

Sang suhu berkata dengan bijak… pertandingan adalah cara yang tepat mengasah peralatan perang, tetapi fikiran bijak adalah pengemudi peralatan perang tersebut.

Majulah… majukan diri, untuk menjadi pendekar yang lebih berarti…

Memeras Ide Menghajarnya dengan Aksi

Beberapa waktu yang lalu, (sudah lupa kapan saya mulai memikirkannya saking sudah lamanya) seringkali muncul dalam benak untuk selalu setia dengan diri sendiri. Setia dengan komitmen sendiri, dan setia dengan apa yang sudah dijanjikan sendiri. Kesetiaan dengan diri sendiri adalah suatu yang berat bagi saya. mungkin juga bagi pembaca. Ketika kita dihadapkan pada problem diri sendiri, komitmen sendiri, maka tidak ada alasan untuk berbohong atau berpaling untuk tidak melakukannya.

Saya memiliki banyak sekali impian, baik untuk kepentingan diri sendiri, maupun untuk kepentingan bersama. Tanpa segan saya pernah bermimpi suatu saat saya akan menjadi seorang professional yang sukses, dan secara berbarengan menjadi seorang penulis yang sukses. (lebih…)